0

Homesick

Bagiku, rumahku bukan hanya yang di Bekasi di mana aku bisa kumpul dengan Ayah, Ibu, Abang, Muthi. Surabaya tempat aku menimba ilmu juga kuanggap rumah, walaupun tidak ada Ayah, Ibu, Abang, maupun Muthi di sana.

Allah SWT tidak pernah memberikan cobaan yang tidak sanggup dihadapi umat-Nya. Kata-kata itu selalu mengena tepat di hati, selalu benar. Meskipun manusia selalu mengeluh, toh, ujung-ujungnya manusia selalu berhasil melewatinya. Dan aku sedang berusaha melewati itu. Berat, sih, tapi aku terus mencoba menikmatinya.

Sejak dua minggu terakhir aku PKL di Gunung Kawi, rasanya berat sekali untuk melakukan kegiatan fisik. Berkali-kali berpikir untuk menangis, tapi tidak mau karena malu. Berkali-kali mengeluh, tapi akhirnya menyesal karena harus merepotkan teman-teman. Dan sekarang, sudah berlalu sebulan, aku masih kesulitan menghadapinya.

Aku sedang PKL lagi, dan kali ini tidak sejauh ke Gunung Kawi, tapi pekerjaan fisik tetap harus dilakukan. Menjadi Dokter Hewan itu tidak lepas dari kegiatan fisik, dan sejujurnya itu sangat menyenangkan, asalkan tidak sedang menghadapi hal satu ini. 

Sejujurnya, yang aku rasakan hanyalah rasa takut. Berbagai pikiran melintas di dalam pikiranku. Takut ini dan itu. Ingin menangis. Ingin pulang. Ingin bertemu Ibu. Well, walaupun pada akhirnya aku tidak akan bisa menangis di depan Ibu kandungku sendiri. Bukan berarti menangis itu hal yang memalukan, hanya saja itu akan membuat Ibu menjadi lebih cemas, dan aku tidak mau itu.

Aku mungkin terkesan tegar, namun sebenarnya aku cengeng T_T

Oke, segini dulu curhatanku. Hahaha 😂
じゃあね ー Si Tiaz 😭

0

Jane, Gadis dari Kota ke Hutan

Maaf sekali, karena baru kali ini lagi ngeposting. Maklum, kegiatanku lumayan banyak, apalagi urusan Ko-Asistensi. Well, sebenarnya gak sesibuk anak Kedokteran. Tapi, aku merasa lumayan sibuk karena harus PKL sampai ke gunung.

Sejak 23 Juni sampai 14 Juli, kami melaksanakan PKL di Gunung Kawi, lebih tepatnya di Kemitraan PT. Greenfields Indonesia. Itu sebuah peternakan rakyat di bawah naungan PT. Greenfields Indonesia.

Aku tidak akan banyak membahas tentang PKL. Ini lebih ke urusan pribadi 😆

Kalian pasti tahu tentang Jane, seorang perempuan yang masuk ke kawasan hutan dj Afrika dan bertemu dengan Tarzan. Dia gadis kota, begitu anggun dan tampak bermartabat. Namun, dia berani ke hutan karena ketertarikannya pada kehidupan primata di sana.

Sama sepertiku. Aku gadis kota, lahir dan besar di kota, hidup serba modern, bahkan gak pernah yang namanya nyentuh sapi kalau bukan pas Idul Adha. Sayangnya, aku tidak secantik Jane.

Duluuuuu sekali, aku tidak pernah yang namanya peduli pada penampilan, terutama wajah dan urusan make up atau semacamnya. Perawatan wajah saja tidak pernah. Mau mukanya minyakan, jerawatan, atau apa kek, aku gak peduli. Cuma cuci muka, dan itu kuanggap sudah bersih.

Mengambil jurusan Kedokteran Hewan mainnya sering ke lapangan, kotor-kotoran, dan bau hewan. Orang bilang ‘bau sapi’. Tapi, aku bangga dengan itu. Pekerjaan ini mulia dan sangat keren. Nah, kalau mau keren itu, walaupun mainnya kayak gitu, gak boleh lupa sama yang namanya penampilan. Jadi Dokter Hewan itu juga kudu mesti menjaga penampilan. Semakin menarik, klien (pemilik hewan) akan semakin senang.

Intinyaaaaa jangan lupa tetap menjaga penampilan, apapun pekerjaannya. Gak cuma buat cewek-cewek, tapi cowok-cowok juga harus menjaga penampilan. Bukan hanya sekedar berpakaiam rapi dan wangi, tapi melakukan sedikit perawatan wajah dan kulit itu penting.

Edisi curhat. Pas ke skin care gitu, sampe ditegur secara halus bahwa mukaku dekil. Wkwk 😅😅

Mau gimana lagi? Abis dari Gunung Kawi, nyari wangsit. Haha 😂😂


じゃあね – Si Tiaz 💄

0

Idul Fitri 1438 H

Happy Eid Mubarak 1438 H.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H. Mohon maaf lahir dan batin.

Tidak banyak kata yang akan saya ucapkan. Saya juga sedang cukup sibuk dengan kegiatan PKL selama sebulan. Saya akui, saya jarang posting beberapa bulan terakhir. Semangat saya untuk menulis memang ada, tapi ‘malas’ adalah cobaan terberat yang harus dilalui.

Saya sedang menempuh ko-asistensi selama setahun ini. Akan sangat sibuk untuk banyak hal. Sejak pertengahan puasa, saya PKL di kaki gunung di daerah Jawa Timur, sebuah kemitraan dengan perusahaan. Ada kosong seminggu untuk libur Lebaran, maka saya sempatkan untung pulang bertemu keluarga di Jawa Barat. Alhamdulillah rejeki. Saya bisa pulang dan kumpul keluarga.

Setelah seminggu ini, saya akan kembali ke gunung untuk menimba ilmu dan pengalaman. Saya harus bisa atur waktu. Andai saya punya waktu untuk menulis kembali, akan saya sempatkan untuk berbagi pengalaman-pengalaman saya.

Sekali lagi,

 Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H. Mohon maaf lahir dan batin.. 🙏
じゃあね – Si Tiaz 😊

0

Persusuan Indonesia

Aku baru saja menghadiri sebuah seminar (diskusi) tentang persusuan. Banyaaaak sekali yang bisa diambil dari kegiatan itu. Informasi yang amat penting untuk Indonesia.

Kebutuhan susu nasional saat ini sangat tinggi, tapi produksi susu sapi di Indonesia tidak mencukupi, sehingga 80%-nya masih impor dari luar negeri. Manajemen yang baik, serta SDM yang berkualitas dapat menjadikan peternakan sapi perah di Indonesia menjadi prospek yang baik. Banyak keuntungan yang bisa diambil dari peternakan sapi perah. Pertama, jelas susu sapi adalah produk utama. Kedua, masa produksi sapi perah bisa sampai 8 tahun (kalau tidak salah). Ketiga, ketika sapi perah sudah tidak berproduksi, bisa dijadikan sapi potong untuk diambil dagingnya. Keempat, pedet dari sapi perah tersebut bisa dikembangkan menjadi sapi perah (jika betina) atau dijual untuk menjadi sapi pedaging (jika jantan). Awalnya memang tidak begitu terlihat keuntungannya, tapi kalau tekun bisa untung besar di masa depan.

Susu itu penting, karena di dalamnya mengandung asam amino yang komplit yang baik untuk kesehatan dan perkembangan otak. Susu juga baik untuk ibu hamil dan janinnya. Jadi, sayang banget kalau gak minum susu.

Tapi, tahukah cara pengolahan susu yang baik itu gimana?

Olahlah susu dengan ditim (gak tahu tulisannya). Caranya:

  1. Tuang susu (raw milk) dalam gelas tahan panas
  2. Rebus gelas berisi susu tersebut dalam panci berisi air
  3. Aduk-aduk susu sampai hampir mendidih
  4. Angkat dan bisa siap diminum

Cara tersebut adalah yang terbaik. Ingat!! Jangan mendidih, tapi HAMPIR mendidih. Kalau mendidih, nanti semua bakteri yang baik bisa mati. Kan sayang…

Oh iya, ada fakta yang baru aku tahu.

Susu kuda. Katanya, susu itu memang baik diminjm mentah, karena pH-nya 4. pH tersebut membunuh bakteri patogen, tapi tidak membubuh bakteri baik. Tapi, coba cari informasi lebih lanjut untuk lebih yakinnya. Ini aku mengutip saja.

Mengenai orang-orang yang diare kalau minum susu alias lacotose intollerance. Memang ada sebagian orang akan mengalami diare kalau minum susu sapi, itu karena laktosa dalam susu sapi mempengaruhi peristaltik usus. Tapi, kalau sudah minum itu beberapa hari, biasanya usus sudah bisa beradaptasi. Diarenya biasanya hanya terjadi 2-3 hari. Dan menurutku, diare itu kadang baik, anggap saja membersihkan pencernaan. Daripada diberhentikan dengan obat, lebih baik dibiarkan dan minum minuman pengganti cairan atau air putih agar tidak terjadi dehidrasi.

TAPI!!! Kalau diarenya karena keracunan, ya harus dibawa ke dokter.

Salah satu pemateri bilang…

“Kalau gak ada orang desa, siapa yang memenuhi kebutuhan orang-orang kota?”

(Well, beliau gak ngomong gitu sih, tapi intinya begitu)

Bayangkan! Orang-orang desalah yang menyediakan susu dan beras, bahkan telur. Orang-orang kota menikmati saja hasil usaha mereka. Tapi, kenapa orang-orang desa tampaknya selalu terlihat tidak mampu dibanding orang-orang kota? 

Nah! Itu yang sampai saat ini masih aku pertanyakan.

Tapi… saat aku sudah lulus dan jadi dokter hewan, aku berharap bisa mengabdi pada masyarakat. Kalau bisa sih gak kerja di kota. Aku yakin, dokter hewan di desa-desa masjh sangat dibutuhkan.

Oh, satu lagi! Ini penting banget!!

Jangan beli sembarang antibiotik. Antibiotik adalah obat yang harus diresepkan. Kesalahan penggunaan antibiotik dampaknya sangat buruk untuk kesehatan. Bisa menimbulkan resistensi kalau tidak tahu cara pakai dan salah jenis antibiotiknya. So, jangan suka beli antibiotik di apotek kalau gak pake resep dokter. Dan untuk apoteker, sebaiknya lebih profesional.


Itu aja yang bisa aku sampaikan. Udah lama gak nge-post. Haha 😅
じゃあねーSi Tiaz 🐄🐄

0

Bertelinga Tapi Tak Mendengar

Maaf, lama nggak ngepost. Sebenernya, udah terlalu banyak hal yang bikin dongkol, tapi karna sibuk koas, jadi nggak tahu harus ngepost apa.

Koas baru aja jalan 3 potong dari begitu banyak potongan hal yang harus dilakukan. Di potongan yang ketiga ini, rasa dongkolnya datang dari seorang pengajar.

Tidak mau mendengar, terus buat apa Tuhan menciptakan TELINGA?

Kesel dan gemes. Pengajar satu itu memang banyak pengalaman, memang sudah kuliah ke luar negeri. Aku akui itu. Tapi, semua itu rasanya amat sangat gak berguna kalau dia nggak mau mendengarkan apa yang mahasiswa katakan. Rasanya, setiap jawaban itu disalahkan. Enak, sih, ngajarnya. Tapi ya gitu…

Aku paling gak tahan debat. Ngomong sama orang yang gak mau dengerin apa yang kita omongin itu cuma bikin capek hati. Aku menghargai dia untuk mendengarkan (nyambi gambar-gambar, sih, tapi serius, aku masih dengerin). Tapi, kalau dia nggak mau hargai mahasiswa, bukankah itu egois?

Aku yakin semua pernah ngerasain hal kayak gitu, entah itu dari guru, dosen, maupun temen bahkan orang tua. Dua hal yang aku lakukan 1) gambar-gambar; 2) diem dan terima aja.

Aku dosa banget ngomong gini di tempat gini. Cuma, aku hanya mau memberitahu:

Jadilah orang yang mau mendengarkan agar mau dihargai orang lain”

じゃあね – Si Tiaz 😤

3

Katak Kecil Menuju Puncak Menara

Kemarin, kami mendapatkan kuliah tentang Kesejahteraan Hewan Karantina dari seorang dokter hewan yang bekerja di Balai Karantina Surabaya, namanya Rento Oktorina (semoga tidak salah nama 😆)

Beliau memberikan pesan terakhir pada kami, mengenai Katak Kecil Menuju Puncak Menara. Untuk menjadi sukses, cobalah seperti Katak Kecil. Ia mungkin dihina karena yang lain tidak akan percaya bahwa dengan tubuh kecilnya, dia bisa naik sapai ke puncak menara. Tapi, dia menjadi tuli dan tidak mendengarkan mereka yang meragukan dirinya. Dia yakin karena dia punya tetap positive thingking dan tahu batasan kemampuan fisiknya.

Intinya, jadilah orang yang tidak peduli bagaimana pandangan orang terhadap kita, karena kehidupan kita yang menjalankannya adalah kita. Tetaplah teguh pada keyakinan. Jangan pantang menyerah dan sadari batasan-batasan diri. Selama tidak merugikan orang lain, jangan sekalipun mendengarkan orang lain yang meragukan kemampuan kita.

じゃあねーSi Tiaz 🐸🗼

0

Teror Farmasi 💊

Bagi sebagian, atau bahkan seluruh mahasiswa kedokteran, baik dokter umum (manusia) maupun dokter hewan, aku yakin mereka frustasi dengan pelajaran FARMASI. Bukan hanya tentang cara menuliskan resep, tapi juga memilih obat-obatan yang logis dan responsible, juga menghitung dosis-dosis yang dibutuhkan. Kalau untuk manusia mungkin lebih mudah, karena yang dihadapi adalah manusia. Tapi, kalau untuk dokter hewan, ada banyak jenis hewan dengan jenis breed-nya yang amat beragam, belum lagi ukuran badan yang berbeda, anak atau fewasa, bunting tidaknya, hewan kesayangan atau hewan liar, atau semacamnya, karena nantinya dosis pasti berbeda. Tapi aku tidak bermaksud meremehkan dokter manusia. Maaf 😶

Seperti yang aku jelaskan sebelumnya, ada kuliah umum sebelum kami pergi ke departemen-departemen dan PKL. Dalam kuliah umum ini, kamii harus melakukan ujian lisan Farmasi, termasuk cara membaca, kandungan setiap bahan dalam resep, hingga segala macam detil di dalamnya. Aku tidak benar-benar merasa tertekan dengan ujian Farmasi, tapi sebagian pasti merasa tertekan. Aku tidak bermaksud untuk menjelekkan apalagi menyakiti satu atau dua pihak. Ini hanya lucu-lucuan saja. SEKALI LAGI, ini hanya kisah untuk lucu-lucuan saja ✌😆

Aku tidak merasa diteror, tapi ada temanku yang merasa terteror setelah ujian lisan Farmasi ini. Sebut saja, Any dan Siska.

Mereka pergi main usai ujian lisan Farmasi. Di jalan, Siska melihat tulisan ‘Revolusi Diri’, tapi dia membacanya sebagai ‘Bunuh Diri’. Secara tidak sadar, otak merespon emosi mental dan tekanan batin yang dia rasakan. Saat ujian lisan, aku akui dia kurang beruntung. Dia ditanyai lebih banyak dan lebih sulit dibanding yang lainnya dalam kelompok yang sama. Mungkin dia terlalu frustasi sampai rasanya ingin bunuh diri haha… 😂

Kemudian, kisah lain datang dari Any. Si Any liat sebuah toko bernama Cigna, tapi dia malah baca ‘Signa’ yang dalam Farmasi merupakan Bahasa Latin. Dia juga melihat semacam comment dalam sebuah sosial media. Di sana tertulis ‘resep’ yang merupakan Bahasa Sunda. Tapi, dia membacanya sebagai ‘Recipe’ yang dalam Bahasa Latin yang digunakan dalam Farmasi.

Aku benar-benar tidak percaya mereka bisa begitu stresnya sampai merasa seperti diteror.

Well, semoga saja mereka tidak merasakannya lagi setelah ini. Karena, kami masih harus menghadapi ujian tulis 2 dan 3. 

Sekali lagi aku tekankan, aku tidak bermaksud untuk menjelekkan satu-dua pihak, ini hanya lucu-lucuan saja. Aku juga tidak bermaksud merendahkan profesi dokter umum (manusia). Aku paham betul besarnya tanggung jawab nyawa manusia.

じゃあね –  Si Tiaz 😮